MANFA’AT BUMBU DAPUR UNTUK KESEHATAN

Rabu , 16 Agustus 2017

 

Disusun oleh: dr. Titien RK, M.MKes

Banyak yang tidak menduga jika ternyata bahan rempah-rempah yang sering digunakan sebagai bumbu dapur memiliki khasiat obat dan terbukti dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini dapat kita jumpai dari waktu ke waktu pemanfaatan tanaman berkhasiat obat di Indonesia yang semakin meningkat, baik oleh pengobat tradisional, industri kecil, maupun industri besar.

Aneka bumbu dapur yang sebagian besar merupakan bahan rempah-rempah yang juga berkhasiat sebagai obat, telah banyak dimanfaatkan secara turun temurun sebagai ramuan pengobatan,seperti misalnya lada, kayu manis, cengkeh, bawang putih, dan lain-lain.

Bertolak dari kenyataan ini saya berusaha menyusun tulisan ini sebagai tambahan pengetahuan bersama untuk mempertahankan kesehatan.

Dalam perkembangannya, tanaman rempah-rempah telah digunakan secara turun temurun sebagai bumbu dapur oleh masyarakat Indonesia. Selain bermanfaat sebagai penambah lezatnya makanan ternyata bumbu dapur berperan pula dalam pengobatan. Sebagai contohnya ialah ‘lada’, karena selain untuk bumbu dapur, lada digunakan untuk bahan baku parfum, kosmetik, dan obat tradisional.

Di kalangan pengobat tradisional, lada telah dipakai sebagai bahan campuran untuk ramuan pengobatan. Beberapa penyakit yang dapat disembuhkan dengan ramuan lada di antaranya rematik, asam urat, gatal-gatal, masuk angin dan perut kembung. Di samping lada, ada beberapa bumbu dapur yang saat ini telah dipakai sebagai bahan ramuan pengobatan berbagai penyakit, seperti kayu manis dan daun salam.

 

MANFAAT BUMBU DAPUR

Selain digunakan sebagai bahan pelezat masakan, beberapa jenis bumbu dapur seperti lada, kayu manis, cengkeh, bawang putih, kencur, sering digunakan untuk bahan campuran kosmetik dan obat-obatan. Beberapa zat kimia alamiah, seperti minyak atsiri yang ada pada kayu manis, sudah lama dimanfaatkan sebagai antiseptik. Ini disebabkan karena minyak atsiri secara umum memiliki daya bunuh terhadap mikroorganisme. Dari berbagai hasil penelitian diketahui bahwa minyak kayu manis bisa membunuh basil tiphus hanya dalam waktu 12 menit. Sementara itu, minyak cengkeh dapat membunuh basil tiphus dalam waktu 25 menit.

Kloppenburg Versteegh menyatakan bahwa beberapa bumbu dapur seperti kayu manis, lada dan bawang putih dapat dijadikan sebagai bahan jamu untuk mengobati disentri dan masuk angin. Seiring pernyataan Versteegh, Biachini, Corbetta, dan Kiangsiu menyatakan bahwa beberapa jenis bumbu dapur sejak ratusan tahun lalu sudah dikenal di belahan dunia Barat dan Timur sebagai bahan ramuan pengobatan, seperti jantung, hipertensi, disentri, diare, sakit pinggang. Sementara Sumaryo Syu dalam buku Resep Jamu Jawa mengemukakan bahwa beberapa jenis bumbu dapur berkhasiat sebagai obat untuk kesuburan wanita dan meningkatkan stamina.

Disamping itu berbagai jenis bumbu dapur juga dipakai sebagai pewangi dan kosmetik.

Di beberapa negara Eropah, jenis-jenis bumbu dapur tertentu juga digunakan sebagai campuran untuk minuman keras, soft drink, agar-agar, kue, kembang gula dan sup.

Menurut Emma S. Wirakusumah (dalam Buah dan Sayur untuk Terapi), banyak bumbu dapur yang mempunyai khasiat sebagai obat, diantaranya bawang merah, bawang putih, dan seledri. Sebagai bahan pengobatan, bawang putih sangat penting untuk mencegah arterosklerosis dan gangguan pada jantung. Beberapa studi menemukan bahwa bawang putih dapat menurunkan tingkat serum kolesterol total dan meningkatkan serum HDL kolesterol (jenis kolesterol yang baik). Bawang putih mengandung yodium yang tinggi dan jika digabung dengan seledri dapat menurunkan tekanan darah, mengatasi cacingan, dan gondok. Di beberapa negara Eropah dan negara kawasan Asia, bawang putih dimanfaatkan untuk mengobati penyakit TBC, asma, dan demam.

Bumbu dapur dan bahan hasil olahannya semakin hari semakin diminati oleh pasar dalam dan luar negeri seiring dengan semakin banyaknya industri makanan, minuman dan obat-obatan.

 

BUMBU DAPUR BERKHASIAT OBAT

A. Bawang Putih (Allium sativum)

    Bawang putih diperkirakan berasal dari Asia. Bawang putih mempunyai jenis yang cukup banyak, tetapi tidak ada perbedaan yang mencolok antara satu dan lainnya, kecuali pada bentuk umbinya.

Dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa umbi bawang putih memiliki beberapa khasiat sebagai berikut:

1. Menurunkan tekanan darah tinggi.

2. Sebagai obat diare, batuk, sakit gigi, disentri, dipteri, vaginitis,dan aterosklerosis.

3. Menurunkan kolesterol.

4. Menurunkan kadar gula darah.

5. Menambah sistem kekebalan tubuh.

6. Mencegah kanker.

7. Antimikroba.

8. Mengobati gangguan pencernaan dan wasir.

 

Sebagian besar pengaruh terapi bawang putih adalah disebabkan faktor folatil (senyawa yang mudah menguap) yang terkomposisi di dalam senyawa yang mengandung sulfur, seperti allicin, diallyl disulfida, dan diallyl trisulfida. Faktor lainnya yang terdapat pada bawang putih adalah kandungan mineral yang tinggi, terutama selenium, germanium, glukosinoleat, dan enzim. Senyawa allicin ini yang menyebabkan timbulnya aroma tidak sedap dan sangat tajam.

Umbi bawang putih penting untuk mencegah aterosklerosisi dan jantung. Beberapa studi penelitian menemukan bahwa bawang putih dapat menurunkan tingkat serum kolesterol dan meningkatkan serum HDL kolesterol. Herba ini juga mengandung yodium yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi bersama seledri, dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah, pengobatan penyakit cacingan, dan gondok.

Bagi penderita gangguan jantung, bawang putih dapat berfungsi sebagai antikoagulan yang mempunyai kekuatan untuk memacu sistem fibrinolitik tubuh, yakni sistem pelarutan gumpalan darah, sehingga terjadi keseimbangan antara penggumpalan dan pelarutan darah. Komponen sulfur bawang putih juga mengandung substansi allicin (diallyl sulfide) dan allyl proopyldisulfide yang bermanfaat sebagai antibiotik dan antiseptik.

Komponen yang menyembuhkan pada bawang putih ternyata tidak ditemukan ketika umbi tanaman ini sudah dimasak. Karena itu, untuk penyembuhan dianjurkan mengkonsumsi bawang putih dalam bentuk mentah, segar (tidak layu), berwarna putih, dan tidak ada tanda-tanda mulai tumbuhnya tunas. Dalam kondisi sakit dianjurkan untuk mengkonsumsi bawang putih sebanyak 3 siung perhari. Sementara itu, untuk pemeliharaan kesehatan dianjurkan mengkonsumsi bawang putih 3 siung perminggu.

 

 

B. Bawang Merah dan Bawang Bombay (Onion dan Allium cepa)

    Herba ini diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Bawang merah mengandung berbagai komponen sulfur organik, juga enzim allinase yang timbul saat disayat atau dihancurkan. Senyawa ini tergolong zat non gizi yang berfungsi untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan tubuh.

Bawang merah berguna untuk menurunkan aktivitas gula darah, sehingga dapat membantu menyembuhkan diabetes mellitus dengan jalan meningkatkan metabolisme hati dari glukosa atau meningkatkan ekskresi insulin. Seperti halnya bawang putih, bawang merah juga bisa menurunkan kadar lemak darah, mencegah penggumpalan darah, dan menurunkan tekanan darah, serta asma.

Sementara itu, bawang bombay dapat menurunkan kadar gula darah.

 

C. Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L)

     Belimbing wuluh tumbuh menyebar hampir diseluruh Nusantara. Selain digunakan sebagai bumbu masakan, belimbing wuluh juga digunakan sebagai bahan ramuan obat tradisional yang dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan sariawan, darah tinggi, gondongan, pegal linu, batuk pada anak, batuk rejan, rematik, sakit gigi karena berlubang dan jerawat.

 

D. Cabai (Capsicum annuum)

     Selain digunakan sebagai pelezat masakan, cabai digunakan sebagai bahan ramuan pengobatan tradisional, dan merupakan salah satu sumber vitamin A, C, dan capsaicin. Zat mucokinetik yang ada pada cabai dapat mengurangi, mengatur, dan mengeluarkan lendir dari paru-paru. Karenanya cabai sangat efektif untuk membantu penyembuhan bronkitis, influensa, masuk angin, sinusitis, asma, hipersensitif udara, untuk membersihkan rongga hidung, dan sebagai dekongestan dalam kasus udara dingin.

 

E. Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.)

    Selain bermanfaat menambah kelezatan masakan, tanaman ini digunakan sebagai bahan ramuan obat tradisional dan campuran bahan minuman. Dari berbagai literatur disebutkan bahwa herba ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit influensa, rematik, beri-beri, lemah sahwat, bronkitis, masuk angin, sakit kepala, kolera, dan sesak nafas.

 

F. Cengkeh (Eugenia aromatica O.K.)

    Cengkeh merupakan tanaman rempah yang sejak berabad-abad telah digunakan sebagai bahan pelezat makanan dan bahan obat tradisional. Dalam pengobatan tradisional, tanaman ini talah dipakai secara turun temurun untuk mengobati berbagai penyakit, seperti campak, kolera, batuk, pelega perut, sakit gigi akibat berlubang, ayan atau epilepsi, dan beri-beri. Di samping itu juga digunakan untuk menambah denyut jantung dan sebagai bahan untuk menghitamkan alis mata.

 

G. Jahe (Zingiber officinale Roxb.)

     Rimpang jahe memiliki aroma yang sangat spesifik, tajam, pahit, dan langu. Ada 3 jenis jahe yang dikenal di Indonesia, yaitu jahe putih atau kuning besar (disebut juga jahe badak atau jahe gajah), jahe putih kecil atau jahe emprit, dan jahe merah.

Sejak dulu jahe sudah dimanfaatkan sebagai bumbu masakan dan sebagai bahan baku obat tradisional, untuk mengobati penyakit kulit, kolera, perut kembung, obat batuk, gatal-gatal, dan sebagai obat kuat (aprodisiak).

 

H. Kencur (Kaempferia galanga L.)

     Rimpang dan daun kencur digunakan sebagai penyedap masakan karena memiliki rasa dan aroma yang khas. Rimpang kencur dapat dijadikan obat tanpa harus diramu dengan tumbuhan atau bahan lainnya.

Khasiat rimpang kencur antara lain untuk menyembuhkan batuk dan keluarnya dahak (ekspektoran), peluruh dan memperbanyak keluarnya air kencing (diuretik), menambah nafsu makan, mengeluarkan angin dalam perut (peluruh kentut), perut kembung, dan sebagai perangsang (stimulan). Di samping itu, air perasan rimpang kencur yang digunakan secara langsung dan sederhana pada penetesan luka yang berdarah, dapat menggumpalkan darah sehingga perdarahan terhenti. Untuk mengobati luka bernanah borok dan kudis, air perasan rimpang kencur digunakan untuk mencuci luka tersebut. Untuk mencegah bau mulut atau luka di mulut, air perasan itu dapat digunakan dengan cara di kumur-kumur.

Air perasan rimpang kencur juga dapat di minum atau dibalurkan ke bagian yang sakit untuk keluhan-keluhan saat sakit perut, pegal-pegal, memar, bengkak karena keseleo atau terkilir, kelelahan setelah melahirkan, selain itu dapat pula digunakan untuk mencuci rambut.

Rimpang kering juga dapat digunakan untuk melindungi pakaian dari serangga dengan cara menyisipkannya di antara lipatan-lipatan pakaian.

 

I. Kayu Manis ( Cinnamomum)

   Ada 4 jenis kayu manis yang digunakan sebagai bahan bumbu dapur dan sebagai bahan ramuan obat tradisional, diantaranya Cinnamomum burmani, C. Zeilanicum, C. Cassia, C. Cullilawan.

Minyak kayumanis dapat dimanfaatkan untuk mengobati sakit maag dan kolera, juga sebagai obat gosok dengan nama dagang Minyak Lawang. Selain itu juga bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah, menghilangkan sakit (analgesik), penambah nafsu makan, dan peluruh kentut.

Perlu diperhatikan, tanaman ini bisa menimbulkan efek samping jika dikonsumsi terlalu banyak (lebih dari 30 gram bubuk per hari).

 

J. Ketumbar (Coriandrum sativum)

    Selain digunakan sebagai bahan penyedap masakan, ketumbar juga dapat dipakai sebagai bahan ramuan untuk mengobati beberapa penyakit, di antaranya gangguan pencernaan, mual, pelega perut, sakit kepala, dan sariawan.

 

K. Kunyit (Curcuma domestica)

     Dari berbagai penelitian diketahui bahwa kunyit dapat menghilangkan penyumbat dengan cara melancarkan aliran darah dan energi vital. Kunyit juga berkhasiat anti radang, antibakteri, antioksidan, peluruh kentut, peluruh haid, dan bisa melancarkan keluarnya empedu ke usus. Kandungan fitohormonnya dapat menormalkan siklus haid yang tidak teratur.

 

L. Lengkuas (Alpinia galanga L.)

    Dikenal 2 jenis, yakni lengkuas putih dan lengkuas merah. Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa ekstrak lengkuas dapat merangsang kelenjar bronkial dan menghambat pertumbuhan mikroba penyebab penyakit tuberkulosisi (TBC). Air rebusan rimpang lengkuas dapat dipakai untuk menghambat pertumbuhan dan mematikan jamur. Dalam pengobatan tradisional, rimpang lengkuas biasa digunakan untuk mengobati penyakit kulit seperti panu dan kurap. Juga dapat dimanfaatkan untuk menghangatkan tubuh, menambah nafsu makan, mempermudah pengeluaran gas dalam perut (karminatif), obat batuk, merangsang otot, dan dapat meningkatkan gairah seksual (aprodisiak).

 

M. Lada (Piper nigrum L.)

     Minuman yang berasal dari bahan lada dapat membuat tubuh tidak merasa dingin meskipun suhu udara sekitar mencapai 0 derajat C, atau bahkan lebih rendah lagi.

Produk lada hitam umumnya dimanfaatkan untuk bahan baku minyak wangi dengan aroma yang khas.

 

N. Salam (Eugenia polyantha)

     Berdasarkan beberapa literatur dan berbagai pengalaman dari pengobat tradisional, daun salam dapat dipakai untuk mengobati hipertensi, diabetes, diare, maag, mabuk akibat alkohol, kudis, dan gatal-gatal.

 

O. Seledri (Apium graveolens)

     Berguna bagi dinding lambung dan saluran usus, memperlambat proses penuaan, menjaga kelenturan dan aktivitas otot, melarutkan penumpukan kalsium di dalam tubuh, memperlancar sistem sikulasi dan metabolisme tubuh.

Seledri paling baik dimakan mentah. Fungsinya sebagai penyeimbang protein yang berasal dari ayam, ikan tuna atau udang. Daun seledri mentah dapat digunakan untuk menjaga kesehatan saraf dan untuk pengobatan penyakit gangguan saraf, dapat berfungsi mengurangi ketegangan sel-sel otot dan saraf sehingga tubuh menjadi lebih rileks.

Jus apel dan jus seledri berfungsi untuk menetralkan asam tubuh, kombinasi jus seledri parsley, dan asparagus sangat baik untuk penyakit ginjal. Sementara jus seledri dan pepaya baik untuk mengobati asma. Selain itu, menurut dr.Setiawan Dalimartha, seledri mempunyai khasiat untuk membersihkan darah, memperbaiki fungsi hormon yang terganggu, dan mengeluarkan kelebihan asam urat melalui urin. Untuk wanita yang jarang haid, karena kekurangan hormon estrogen (akibat hipogonadism) atau wanita usia perimenopause yang banyak keluhan akibat menurunnya kadar estrogen, meminum air perasan seledri merupakan salah satu solusinya, karena dapat memperbaiki fungsi hormon yang terganggu.

Juga berkhasiat sebagai antioksidan, hipotensif, sebagai pencerna lemak, dan setiap 100 gram seledri mengandung 50 gram kalsium, yang dapat mencegah timbulnya osteoporosis.

 

P. Serai (Cymbopogon nardus)

     Secara turun temurun, serai digunakan sebagai salah satu bahan ramuan tradisional. Beberapa penyakit yang dapat disembuhkan dengan serai di antaranya batuk, nyeri dan pegal linu, sakit kepala, nyeri lambung, dan diare.

 

Q. Adas (Foeniculum vulgare Mill.)

     Biji adas merupakan bagian yang paling banyak digunakan sebagai bumbu masakan, yakni sebagai pengharum, penyedap, dan pengawet makanan. Dari beberapa literatur disebutkan bahwa herba ini berkhasiat sebagai obat aprodisiak (obat kuat), mules, sariawan, dan sebagai obat batuk. Sebagian masyarakat menggunakan akar herba ini sebagai obat pencahar, bahan baku minuman keras, kue, dan parfum.

 

R. Asam Jawa (Tamarindus indica L.)

    Dari beberapa hasil penelitian, diketahui bahwa buah asam memiliki sifat manis, asam, dan sejuk. Secara turun temurun, asam diyakini dapat mengobati penyakit radang payudara, bisul, borok luka, sariawan, demam, rematik, bengkak terpukul, menurunkan berat badan, gatal-gatal, mencegah rambut rontok, bengkak persendian, karat gigi, susah tidur, dan batuk.

 

S. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia)

     Bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan ramuan obat adalah buah, kulit buah, dan akarnya. Secara turun temurun jeruk nipis dapat menyembuhkan demam, batuk kronis, flu ringan, penyakit kurang darah, menghentikan kebiasaan merokok, bau badan, analeptik (penyegar atau bisa menghilangkan rasa lelah, letih, dan lesu), dan melancarkan kencing.

Air perasan jeruk nipis dapat digunakan sebagai obat pelangsing, peluruh dahak (ekspektoran), penurun panas (antipiretik), demam, dan buang air besar (diare). Sementara itu akar jeruk nipis bisa digunakan untuk mengobati penyakit wasir.

 

 

T. Kapulaga (Amomum cardamomum Willd.)

    Bagian tanaman kapulaga yang biasa dipakai untuk bahan baku obat tradisional adalah buahnya yang juga dipakai untuk bahan campuran industri parfum dan industri makanan.

Beberapa literatur menyatakan bahwa herba ini berkhasiat menyembuhkan penyakit kejang perut, rematik, demam, batuk, sesak nafas, menambah nafsu makan, menghilangkan bau badan, dan sebagai obat radang amandel. Selain biji, air rebusan daun dan batang kapulaga dapat mengurangi penimbunan gas di dalam usus, menyembuhkan kolik, dan mengatasi lemah badan.

 

U. Pala (Myristica fragrans Houtt.)

     Di beberapa daerah biji pala dimanfaatkan sebagai bumbu penyedap masakan, dan dari beberapa literatur pala dapat digunakan untuk mengatasi kelebihan gas di dalam usus, obat pencahar, diare, dan dapat membuat rasa mengantuk.

 

Bertolak dari pemanfaatan rempah sebagai bumbu dapur dan dapat bermanfaat sebagai obat, dan mengingat masih banyak jenis bumbu dapur yang memiliki spektrum penggunaan yang luas dalam pengobatan, maka saya berharap semoga tulisan ini bermanfaat. Kritik, saran, dan masukan sebagai penambah khazanah pengetahuan sangat diharapkan. Sekian dan sampai jumpaaa...

 

 

Referensi: Manfaat Bumbu Dapur untuk Mengatasi Aneka Penyakit, cetakan I Th.2003

Penerbit: PT Agro Media Pustaka

Penulis: Ir. W.P. Winarto dan Tim Karyasari

Share :